Sunday, April 26, 2020

Hukum Berkumpul Laki-laki dan Perempuan bukan Mahram

HUKUM IKHTILAT (BERCAMPUR LAWAN JENIS BUKAN MAHRAM)

Assalaamu’alaikum...

1) Pak Ustad, saat ini saya sekolah di negeri yang terjadi ikhtilat(campur baur). Dan saya baru-baru ini mengetahui, kalau ikhtilat di sekolah negeri itu diharamkan karena terjadi campur baur. Apa yang harus saya lakukan?

2) Saya pernah berfoto dengan teman-teman saya dengan terdiri dari laki-laki dan perempuan yang diantaranya terdapat perempuan yang tidak berhijab. Apakah saya menjadi berdosa? Walaupun hal tersebut terjadi di sekolah ataupun di tempat yang sebetulnya tidak menimbulkan fitnah. Kemudian, bagaimana cara bertaubatnya

Demikian pertanyaannya,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

1. Ikhtilat atau percampuran lokasi antara lawan jenis bukan mahram tidak apa-apa dengan syarat:
a) tidak terjadi kholwat atau berduaan; Baca detail: Hukum Kholwat

b) tidak syahwat; c) tidak melakkan perbuatan yang melanggar syariat.

2. Tidak masalah. Tidak berjilbab itu dosa bagi yang melanggar. Dan itu bukan urusan anda. Baca detail: Hukum jilbab dan Isbal

ADA KOTORAN KECIL DI KUKU LUAR

Assalamu’alaikum...

Pak Ustad, pada saat pagi hari saya melihat pada kuku luar saya terdapat lapisan sedikit berwarna coklat, dan saya tidak tahu apakah kotoran tersebut menghalangi sahnya wudhu. Hal tersebut membuat saya ragu, apakah sholat yang sebelumnya saya lakukan sah. Padahal sebelum melihat kotoran tersebut, saya merasa yakin dengan sholat saya.

Apakah saya harus menggunakan kaidah hukum asal? Yaitu sholat yang saya lakukan sebelumnya sah.

Demikian pertanyaannya, wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

Hukum kotoran kecil yang ada di kuku itu tidak menghalangi sampainya air pada permukaan kuku. Dengan demikian, wudhunya sah dan shalatnya juga sah tanpa harus memakai kaidah hukum asal. Baca detail: Kotoran Kuku dan Koreng jadi Penghalang Mandi dan Wudhu?

NIAT FARDHU ATAU SUNNAH, APAKAH WAJIB?

Beberapa bulan lalu pak ustadz pernah bilang kalau niat mandi wajib tanpa kata wajib akan menjadi ambigu dan tidak sah niat dan mandinya, maka dari itu harus ada kata wajib dalam niat mandi wajib.

Pertanyaannya, kalau niatnya dengan mandi junub atau mandi besar, apakah harus ada kata wajib juga ?

JAWABAN

Tidak harus. Boleh mengatakan "Niat mandi junub" atau "niat mandi besar". Baca detail: Cara Niat

TAUBAT

assalamualaikum,
saya mau tanya
saya pernah bertaubat dari suatu perbuatan dengan janji tidak melakukannya kembali, tetapi saya sering melanggar atau melakukan kemaksiatan itu lagi. dan saya baru tau kalau kita berjanji kepada allah, kita harus membayar kafarat. dan saya sudah berulang2 kali berjanji dan berulang2 kali pula melanggarnya
pertanyaan saya,
1. apakah harus membayar kafarat jika kita berjanji pada waktu itu dalam keadaan belum tahu kalau melanggar harus membayar kafarat?
2. apakah masih bisa kita membayar janji menjauhi perbuatan maksiat yang pernah kita langgar dengan menjauhi perbuatan tersebut sekarang?
jazakallah khair...

JAWABAN

1. Dari mana anda dapat info tersebut? Yang benar adalah Janji yang tidak ditepati tidak harus membayar kafarat. Tapi berdosa. Baca detail: Hukum Janji

Yang harus membayar kafarat itu ada dua hal yaitu melanggar sumpah atau tidak melaksanakan nadzar.
Baca detail: Hukum Nadzar
Baca juga: Hukum Nadzar dan Sumpah

2. Kalau pernah melanggar janji maka cara terbaik adalah bertaubat. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

Sunday, March 15, 2020

Hukum Peringatan Hari Valentine Day dalam Islam

Peringatan Hari Valentine Day dalam Islam

Hukum merayakan hari Kasih Sayang (Inggris: Velentine day; bahasa Arab: Idul Hubb عيد الحب) menurut syariah Islam dan opini para ahli fiqih kontemporer baik yang Wahabi Salafi maupun non-Wahabi.

DAFTAR ISI
  1. Sejarah Singkat Hari Valentine
  2. Pendapat yang Membolehkan Merayakan Valentine Day
    1. Majelis Fatwa Yordania
    2. Majelis Fatwa Mesir
  3. Pendapat yang Mengharamkan Valentine Day
    1. Fatwa MUI Majelis Ulama Indonesia Tentang Valentine Day
    2. Fatwa Ulama Wahabi Salafi Seputar Hari Valentine
    3. Fatwa NU Nahdlatul Ulama
  4. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM


SEJARAH SINGKAT VALENTINE DAY

Valetine Adalah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukar kartu ucapan dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan kartu ucapan pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal.

Hari Santa Valentine, dikenal juga dengan Valentine's Day atau Hari Kasih Sayang adalah hari libur yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari setiap tahun. Hari Velentine dirayakan di banyak negara dunia, walaupun hari ini bukanlah hari libur di kebanyakan negara tersebut.

Awalnya hari Valentine merupakan perayaan untuk satu atau lebih santa Kristen yang bernama Valentinus. Beberapa kisah martir telah dimasukkan untuk berbagai Valentine yang berasal dari 14 Februari dan ditambahkan pada martirologi. Akun hagiografi populer dari Santa Valentine Roma menyatakan bahwa ia ditahan karena melakkan perkawinan untuk para serdadu dan banyak orang Kristen yang dilarang menikah dan disiksa oleh Empirium Romawi.

Hari Valentine pertama kali diasosiasikan dengan cinta romantis dalam lingkaran Geoffrey Chaucer pada Era Pertengahan, ketika tradisi ekspresi cinta berkembang. Pada abad ke-18 Inggris, perayaan ini berkembang menjadi hari di mana orang yang pacaran mengekspresikan cinta mereka masing-masing dengan menghadiahkan bunga, menawarkan permen dan manisan serta mengirim ucapan kartu selamat yang dikenal sebagai "valentines".


PENDAPAT YANG MEMBOLEHKAN MERAYAKAN VALENTINE DAY (HARI KASIH SAYANG)

Ada sejumlah ulama yang menghalalkan / membolehkan peringatan hari valentine antara lain:

a) Majelis Fatwa Yordania

Majlis Fatwa Yordania membolehkan memperingati hari kasih sayang (valentine) asalkan untuk suami istri. Baik dirayakan pada hari valentine atau pada hari apa saja dalam tahun itu. Majelis Fatwa menambahkan bahwa yang paling utama adalah peringatan kasih sayang itu tidak mengkhususkan dikhususkan pada hari tertentu karena terkait dengan akidah dan tradisi orang non-muslim.

Berikut fatwa Majelis Fatwa Yordania selengkapnya:


السؤال :

ما هو حكم الاحتفال بعيد الحب ؟ وهل يجوز الاحتفال للمتزوجين ؟

الجواب :

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله

لا حرج على الزوج في الإهداء لزوجته في أي يوم من أيام السنة، وسواء أكانت الهدية بمناسبة أو غير مناسبة، على أنه لا يحبذ أن تربط الإهداء للزوجة بيوم معين يرتبط بعادات وعقائد غير المسلمين، فالمسلم صاحب سلوك وشخصية مستقلة، تنضبط أفعاله - دوماً - بتعاليم دينه وشريعته. والله أعلم.

Artinya: Tanya: Apa hukumnya memperingati hari Valentine (hari kasih sayang)?
Jawab: Tidak apa-apa bagi suami memberi hadiah bagi istrinya pada hari apapun. Sama saja hadiah itu berkaitan atau tidak berkaitan dengan sesuatu. Hanya saja sebaiknya suami tidak mengaitkan pemberian pada istri itu dengan hari tertentu yang berhubungan dengan tradisi dan akidah non-muslim...

b) Majelis Fatwa Mesir

Majelis Fatwa Mesir menyatakan bahwa tidak ada larangan untuk memberikan sesuatu pada orang lain pada hari tertentu yang berkaitan dengan peristiwa sosial sepanjang tidak berlawanan dengan syariah Islam. Oleh karena itu, tidak ada dosa menjadikan hari tertentu untuk memuliakan ibu, memulikan pekerja, memuliakan guru atau menampakan perasaan kasih sayang dalam batas hubungan yang dibolehkan.

Berikut isi pernyataan ketua Fatwa Mesir, Syaikh Ahmad Mamduh, selengkapnya:


دلا مانع أبدا فى الشرع أن الناس تتفق على أيام معينة يجعلونها خاصة لبعض المناسبات الاجتماعية طالما لا تختلف مع الشريعة، مثل يوم تكريم الأم فلا مانع منه، ولا مانع أن نتخذ يوما من الأيام كى يظهر كل شخص للآخر عن مشاعره نحوه وأنه يحبه

النبى فى حديثه الشريف دعا الإنسان إذا أحب أحدكم أخاه فليقل له إني أحبك فى الله، ومفهوم الحب أوسع من تلك العاطفة بين الرجل والمرأة على وجه الخصوص بل هى مفهوم أعم فمن الممكن فى هذا اليوم أعبر عن حبي لأولادى أو لصديقى أو لأهلى

بعض الناس قد يعترض ويقول إن هذه المناسبات التي اعتاد الناس تحديدها للاحتفال ببعض الأمور الاجتماعية، أصولها ليست أصول إسلامية وأنها من ابتكار غير المسلمين، وأن هذا من باب التشبه بغير المسلمين، وفى الحقيقة هذا الاعتراض ليس صحيحًا، لأنه حتى يكون الإنسان متشبهًا لابد عليه أن يقصد التشبه لأن فى اللغة العربية مادة التشبه على وزن تفعل والتفعل معناه أن الإنسان يفعل الشىء وهو يقصد فعله وليس مجرد حصول الشبه فى الصورة والشكل فقط يسمى تشبهاً، ثم أن أصل هذه الأشياء ذهبت وتناسها الناس وشاعت وصار يفعلها المسلمون وغير المسلمين، فلم تعد يلاحظ فيها أصولها غير الإسلامية لو كانت والاعتراض هنا ليس صحيحًا

إن الاحتفال مقيد بأنه لا يتم فيه أى نوع من الأشياء التى تخالف الشرع أو تخالف الدين، فنحن نتكلم عن إظهار المشاعر فى الإطار الشرعى بمظاهر وإجراءات من التهادى والكلمات اللطيفة، وكل هذا لا شىء فيه ما دام مقيدًا بالآداب الشرعية وسمى عيدًا لأنه يعود ويتكرر وليس المقصود به كعيدى الفطر والأضحى

PENDAPAT YANG MENGHARAMKAN PERAYAAN VALENTINE DAY

Hukum Valentine Day (Hari Kasih Sayang) dan merayakannya menurut pandangan ulama Islam kontemporer adalah sbb:


FATWA MUI TENTANG VALENTINE DAY

MUI Pusat belum mengeluarkan fatwa tertulis dan resmi tentang hukum perayaan Valentine Day. Namun tokoh-tokoh MUI pusat cenderung mengharamkannya.

Ketua Komisi Fatwa MUI KH Ma'ruf Amin menyatakan bahwa merayakan hari kasih sayang atau Velentine Day hukumnya haram. "Dilihat dari perayaannya karena banyak pesta, mabuk-mabukan, sudah haram, jadi tanpa mengeluarkan fatwa secara khusus, sudah ketahuan (haramnya)," kata Makruf Amin.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengharamkan perayaan ‘Valentine Day’ bagi umat Islam. Perayaan ‘Valentine Day’ dinilai cenderung melanggar ajaran Islam.[2]

“VALENTINE merupakan budaya barat dan bertentangan dengan budaya Muslim,” kata Ketua MUI Pusat, KH Amidhan.

Apalagi, katanya, di masyarakat saat ini berkembang adanya indikasi ‘Valentine Day’ untuk ajang menghalalkan seks bebas dengan modus penjualan cokelat yang diselipi alat kontrasepsi di dalamnya.[3]


FATWA ULAMA WAHABI SEPUTAR VALENTINE DAY

1. Muhammad bin Shalih Al-Uthaimin: haram hukumnya merayakan Valentine Day.[4]
2. Abdullah bin Jibrin mengharamkan perayaan Valentine Day atau Hari Kasih Sayang.[5]
3. Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman Ar-Rajhi.[6]

Alasan ketiga ulama Wahabi tersebut hampir sama yaitu:

1. Perayaan yang bersifat bid'ah. Tidak ada dasar dalam syariah.
2. Mempromosikan cinta dan kasih sayang di luar tali pernikahan.
3. Bertentangan dengan tradisi salafussalih.
4. Menyerupai dan melakukan perayaan orang Yahudi dan Nasrani adalah haram hukumnya.

=====================
CATATAN DAN RUJUKAN

[1] islamweb.net fatwa 6735
[2] Seperti dikutip Kompas 13 Februari 2008.
[3] Seperti dikutip Monitor Indonesia 14 Februari 2012.

[4] saaid.net/mktarat/7oob/14.htm

الإحتفال بعيد الحب لا يجوز لوجوه :
الأول: أنه عيد بدعي لا أساس له في الشريعة .
الثاني : أنه يدعو إلى العشق والغرام .
الثالث: أنه يدعو إلى إشتغال القلب بمثل هذه الأمور التافهة المخالفة لهدي السلف الصالح رضي الله عنهم .
فلا يحل أن يحدث في هذا اليوم شيء من شعائر العيد سواءً كان في المآكل ، أو المشارب ، أو الملابس ، أو التهادي ، أو غير ذلك .
وعلى المسلم أن يكون عزيزاً بدينه وأن لا يكون إمعةً يتبع كل ناعق ، أسأل الله تعالى أن يعيذ المسلمين من كل الفتن ما ظهر منها وما بطن ، وأن يتولانا بتوليه وتوفيقه

Artinya: Memperingati Hari Valentine tidak boleh karena beberapa alasan: Pertama, Valentine Day adalah lebaran bid'ah yang tidak ada dasarnya dalam syariah. Kedua, mengundang pada perbuatan ishiq dan gharam. Ketiga, menyebabkan sibuknya hati dalam urusan remeh seperti ini yang berlawanan dengan petunjuk generasi salaf.

Oleh karena itu, maka tidak halal pada hari tersebut menunjukkan sesuatu yang bermakna merayakan hari raya baik dalam segi makanan, minuman, pakaian, hariah, dan lainnya. Setiap muslim harus merasa bangga pada agamanya dan tidak asal ikut-ikutan.

[5] saaid.net/mktarat/7oob/16.htm

وعلى هذا لا يجوز بيع هذه الهدايا والورود إذا عرف أن المشتري يحتفل بتلك الأعياد أو يهديها أو يُعظم بها تلك الأيام حتى لا يكون البائع مشاركًا لمن يعمل بهذه البدعة والله أعلم .

Artinya: Karena alasan ini, maka tidak boleh menjual hadiah-hadiah dan bunga apabila diketahui bahwa pembeli akan merayakan hari raya itu atau menghadiahkannya atau memuliakan hari tersebut agar supaya penjual tidak bersekutu dengan orang yang melakukan perbuatan bid'ah ini.

[6] http://ar.islamway.com/fatwa/14482

لا يجوز للمسلم أن يهنئ اليهود ولا النصارى ولا أن يشاركهم، وسبق أن تهنئتهم بأعيادهم كما قال شيخ الإسلام مثل تهنئتهم بالسجود للصنم، وتهنئتهم بشرب الخمر. هذا خطير، لا يجب للإنسان أن يشارك اليهود ولا يهنئهم، ولا ببطاقات، ولا شيء

Artinya: Perayaan Hari Valentine (Valentine Day) tidak boleh (haram) karena beberapa alasan:
Pertama, Ia adalah hari raya yang tidak ada dasarnya dalam syariah Islam.
Kedua, mendorong pada perbuatan ishq dan gharam.
Ketiga, mendorong menyibukkan hati untuk melakukan perbuatan rendah yang bertentangan dengan tradisi salaf.
Maka tidak halal pada hari ini mengadakan sesuatu yang menjadi tanda perayaan baik berupa makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah, dll. ..


FATWA NU: PERINGATAN HARI VALENTINE HARAM

Perayaan Hari Valentine (Hari Kasih Sayang) yang dirayakan pada setiap tanggal 14 Februari hukumnya haram dirayakan.

Ketua PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) Kabupaten Pasuruan KH Sonhaji Abdus Somad menyatakan, perayaan Valentine Day adalah mengadopsi dari budaya barat. Oleh karena itu, pihaknya pun dengan tegas melarang warga NU untuk ikut-ikutan merayakan.

"Banyak pasangan bukan muhrim melakukan hubungan suami istri, karena kebablasan menafsirkan Valentine Day ini. Hari Kasih Sayang tidak pantas untuk budaya di Indonesia," terang Gus Son, sapaan akrab KH Sonhaji Abdus Somad, Selasa (12/2/2013).

Sementara itu Ketua PCNU Bangil KH Samsul Maarif menjelaskan, peringatan yang diperbolehkan menurut Islam adalah merayakan Hari Kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. "Di dalam Islam perayaan Valentine tidak ada dan tidak dikenal," ungkapnya.

Monday, March 02, 2020

Hukum Menjual Hadiah

HUKUM MENJUAL HADIAH

Assalamualaikum.
Saya ingin bertanya terkait bagaimana hukum menjual kembali barang pemberian (hadiah) dan barang bekas pakai yang masih layak? Saya menjual kembali dengan harga murah karena butuh uang tetapi tidak pula mencari untung besar, asal pas untuk keperluan. Kemudian diketahui oleh teman yang memberikan hadiah itu dulu, dan dia tersinggung. Apakah saya dosa? Apa yang sebaiknya saya lakukan? Terima kasih.

JAWABAN

Boleh menjual hadiah. Karena hadiah itu sah menjadi milik penerima hadiah. Dan halal bagi siapapun untuk menjual barang miliknya. Baca detail: Hibah dan Hadiah

Juga, tidak masalah bagi anda menjual barang hadiah sesuai dg harga pasar. Dalam Islam tidak ada batasan harga bawah atau atas. Yang terpenting, kedua pihak, pembeli dan penjual, sama-sama rela. Baca detail: Bisnis dalam Islam

DAPAT BOCORAN ULANGAN HARIAN

Assalaamu’alaikm...

1) Pak Ustad, saya pernah mendapat bocoran soal/ jawaban ulangan harian. Saya menghafalkan jawaban bocoran soal tersebut dan ternyata ada sebagian soal yang keluar saat ulangan. Saya tidak menconteknya ketika waktu ulangan tiba. Apakah yang saya lakukan itu tetap berdosa?

2) Bagaimana jika saya berhasil mendapatkan pekerjaan dengan menggunakan ijazah yang nilainya ada yang didapatkan dengan cara pada saat dulunya ketika ulangan sudah mengetahui bocoran jawaban ulangan dan menghafalkannya sebelum ulangan tiba. Apakah penghasilan pekerjaan saya menjadi haram? Dan bagaimanakah cara bertaubatnya?

Demikian pertanyaannya,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN


1. Ya, anda berdosa karena menerima bocoran yang semestinya anda tolak sejak awal. Berdosanya karena itu melanggar ketentuan dari sekolah. Bahwa pada akhirnya anda tidak menyontek itu memperkecil dosa anda. Jadi, dosanya hanya karena menerima bocoran itu saja.

2. Tidak masalah. Gajinya tetap halal dg syarat: a) jenis pekerjaan halal; b) anda bekerja dg baik.
Baca detail: Hukum Masuk PNS karena Suap

KERJA DI NON MUSLIM YANG PUNYA ANJING

Saya kerja di tempat orang non muslim, bos saya memelihara anjing, suatu hari anjingnya lepas, dan kencing di lantai tempat saya kerja.. Nah karyawan yang non muslim menggepel lantai tersebut. Apakah lantai tersebut sudah suci Atau belum.. Saya jadi ragu untul lewat lantai itu.

Di sisi lain saya harus lewat lantai itu

JAWABAN

Ngepel yang benar yang menyucikan najis anjing adalah dg cara: a) membersihkan najis tersebut dg kain sampai hilang bekas kencingnya; b) menyiramnya dg air sebanyak 7 kali dan salahsatu siraman dicampur dg tanah atau debu. Baca detail: Cara Menyucikan Najis Anjing

Apabila tidak dilakukan dg cara tersebut di atas, maka lantainya tetap najis. Namun, apabila bekas najis itu kering, maka najisnya tidak menular ke anda asalkan anda juga kering (baju, sepatu, atau apapun yg menyentuh bekas najis itu).

Pandangan di atas adalah menurut tiga madzhab fikih yaitu madzhab Syafi'i, Hanafi, dan Hambali. Sedangkan menurut madzhab Maliki, kencing anjing itu najis biasa yang cukup disiram satu kali saja. Jadi, kalau bekas kencing anjing itu hanya dipel dg kain pel saja, maka tetap belum suci. Namun anda bisa menyiramnya satu kali saja agar menjadi suci. Baca detail: Najis Anjing Menurut Empat Madzhab

ADAKAH STANDAR HARTA MENGAJAR MENURUT ISLAM?

Assalamualaikum wr wb. Saya mau bertanya. Saat ini saya sedang mengajar bimbingan belajar disebuah yayasan. Setiap bulan setiap siswa membayar 250rb. Seminggu saya mengajar 15 anak lebih. Setiap bulannya saya mendapatkan 200rb. Dalam islam apakah hitungannya sudah sesuai belum??
Apakah ada ketentuan seperti layaknya jual beli yg hanya boleh mengambil keuntungan paling banyak 50%??? Mohon penjelasannya terimakasih wassalamualaikum wr wb

JAWABAN

1. Tidak ada standar harga bawah dan atas dalam Islam. Yang penting kedua pihak sama-sama rela.

2. Tidak ada ketentuan harga dalam Islam, termasuk dalam jual beli tidak ada larangan untuk mengambil laba lebih dari 50%. Prinsip dalam jual beli adalah saling rela. Baca detail: Bisnis dalam Islam

NAJIS ANJING

Bagaimana jika seseorang pernah bersentuhan anjing baik basah/kering dan tidak dibersihkan dengan 7 kali cuci dan salah satunya dicampur tanah tapi sudah terlanjur memegang benda benda disekitar baik dalam keadaan basah/kering. Apakah najisnya tertular kemana mana dan bagaimana harus membersihkannya. Mengingat sudah banyak sekali benda yang terpegang termasuk barang elektronik yang sulit dibersihkan dengan cara tersebut?

JAWABAN

Dalam kondisi seperti itu, anda sebaiknya mengikuti pendapat madzhab Maliki yang menyatakan bahwa anjing yang hidup itu suci alias tidak najis (kecuali kencing dan kotorannya tentunya). Dengan demikian, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Baca detail: Najis Anjing Menurut Empat Madzhab

Namun demikian, ke depannya tetaplah berhati-hati pada anjing dan berusaha menghindarinya apabila memungkinkan.

Saturday, February 29, 2020

Suami Lebih Sayang Anak Daripada Istrinya

Suami Lebih Sayang Anak Daripada Istrinya
SUAMI LEBIH SAYANG ANAK DARIPADA ISTRINYA

Saya menikah dengan duda beranak 3, suami saya tidak pernah bilang tidak punya uang terhadap anak-anaknya, dan setiap anak-anak minta ini itu selalu ada dan tidak pernah bilang tidak bisa, tapi yang terjadi pada diri saya malah sebaliknya dari sikap suami terhadap anak-anaknya.
1. Apakah saya berhak menuntut suami memenuhi kebutuhan materi saya?
2. Apakah sudah benar sikap suami saya yang cuma memenuhi kbutuhan materi anak-anaknya?
3. Apa saja hak dan kewajiban saya sebagai ibu sambung?

JAWABAN

1. Ya. Suami wajib menafkahi istrinya. Baca detail: Suami Wajib Menafkahi Istri Walaupun Kaya

2. Benar. Bapak wajib menafkahi anaknya. Baca detail: Kewajiban Ayah Menafkahi Anak

3. Tidak ada kewajiban anda pada anak tiri. Namun akan baik kalau anda ikut mendidik mereka sebagai bakti pada suami secara khusus dan pada anak muslim secara umum.

Perlu juga diketahui, bahwa anak tiri adalah mahram. Baca detail: Larangan Wanita Bepergian Sendirian



RUMAH TANGGA: MASA IDDAH BERAPA KALI MASA SUCI?

Assalamu'alaikum
Saya adl wanita yg sudah bercerai talak.saya ingin menanyakan masa iddah saya.
Setelah talak terucap dan memang saya dan suami itu bercerai, saya ada waktu sekitar 1 minggu suci dan kemudian 14 hari haid.Nah sekarang sudah dalam masa suci hampir 1 bln yg tidak seperti biasa waktu suci saya (ini lebih lama).
Jika saya tidak haid lagi:
1.bagaimana perhitungan masa iddah saya?
2.jika diakumulasikan berapa hari untuk saya menjalani masa iddah dg kronologi spt penjelasan diatas?

Mohoh penjelasan nya untuk para ulama' dan terimaksih atas semua ilmunya.Semoga doa baik kita semua dikabulkan oleh Alloh swt
Sekian
Wassalamu'alaikum

JAWABAN

Masa iddah dibagi dalam dua kategori: iddahnya orang yang biasa haid dan iddahnya orang yang tidak haid (menopause, dll).

Iddahnya orang yang biasa haid adalah 3 kali masa suci. Sedangkan iddahnya orang yang tidak haid adalah tiga bulan. (At-Thalaq 65:4).

1. Jika anda tidak haid lagi, maka anda masuk kategori wanita yang tidak haid sehingga masa iddanya 3 bulan.

2. Hitung saja sampai 3 bulan sejak suami menceraikan anda maka iddah anda sudah berakhir.
Baca detail: Cara Rujuk dan Masa Iddah

MEMANDANG GAMBAR SAMBIL NIAT TALAK, APAKAH JATUH TALAK?

Disini saya ada sedikit pertanyaan, apakah jatuh hukum talak sekiranya adanya perbuatan seperti memadam gambar, memadam mesej atau menutup video beserta dengan niat talak dalam hati? Sepengetahuan saya talak baru dikira jatuh hukumnya jika dilafazkan. Mohon pencerahan ustaz.

JAWABAN

Tidak jatuh talak. Jadi, betul pendapat anda bahwa talak baru jatuh apabila ada lafaz yang diucapkan. Ini disebut talak kinayah. Dan lafaz yang diucapkan dalam talak kinayah itu harus lafaz yang memiliki makna ambigu (makna dua). Seperti kata "pergi" atau "selamat tinggal". Dua kata ini bisa bermakna bukan talak atau bermakna talak. Untuk itu, maka perlu adanya niat talak agar sah terjadinya talak. Baca detail: Cerai dalam Islam

Jadi, walaupun anda mengeluarkan suatu ucapan tapi kalau ucapan itu tidak mengandung makna yang mengarah ke talak, maka tidak jatuh talak walaupun disertai niat talak. Misalnya, kata "makan" adalah kata yang sama sekali tidak mengandung makna pisah. Maka, suami yang mengucapkan kata 'makan' tidak berdampak pada talak walaupun ada niat talak.

TALAKNYA ORANG WAS-WAS TIDAK JATUH

Perlu juga diketahui, bahwa ucapan talak sharih pun tidak jatuh talak apabila diucapkan oleh orang was-was atau penderita OCD apabila itu di luar kehendaknya. Baca detail: Talak Orang Was-was tidak sah

Friday, February 21, 2020

10 Pesantren Terbaik di Indonesia

10 Pesantren Terbaik di Indonesia

10 Pesantren Terbaik di Indonesia
Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam terbaik, terpopuler, terkenal dan paling berpengaruh yang berdiri sejak lama di Indonesia. Bahkan sebelum lembaga pendidikan modern lain ada. Yakni sejak masuknya Islam ke tanah Indonesia yang dibawa oleh para pedagang muslim, da'i, mubaligh dan para wali dari luar negeri. Konon pesantren pertama didirikan oleh salah satu walisongo. Tidak semua pesantren tua masih eksis pada saat ini. Ada yang sudah tutup karena tidak ada penerusnya, tapi ada juga yang masih eksis, populer dan besar sampai saat ini. Namun tidak sedikit pesantren baru yang mengalahkan pesantren lama karena adanya inovasi dan terobosan dalam segi manajemen dan sistem pembelajaran.

DAFTAR ISI 10 PESANTREN TERBAIK
  1. Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan
  2. Pondok Pesantren Langitan Tuban
  3. Pondok Modern Gontor Pondorogo
  4. Pondok Pesantren Tebuireng Jombang
  5. Pondok Pesantren Al-Khairaat Palu
  6. Pondok Pesantren Banyuanyar Madura
  7. Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo
  8. Pondok Pesantren Musthofawiyah Sumut
  9. Pondok Pesantren Buntet Cirebon
  10. Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang


1. PONDOK PESANTREN SIDOGIRI PASURUAN

Ponpes Sidogiri menempati urutan pertama sebagai pesantren terbaik, terpopuler dan paling berpengaruh karena banyak hal: a) Ia pesantren tertua di Indonesia yang bukan hanya masih eksis tapi terus berkembang; b) Tetap berani mempertahankan sistem pendidikan salaf alias murni mengkaji ilmu agama dan pada waktu yang sama tetap dapat memertahankan jumlah santri yang mencapai puluhan ribu (putra dan putri); c) Dikenal sebagai satu-satunya pesantren yang berhasil mandiri dalam bidang finansial berkat berbagai usaha bisnisnya yang sangat sukses mulai dari lembaga keuangan yang bernama BMT (Baitul Mal Wat Tamwil) yang memiliki banyak cabang, waralaba minimarket (mart) dengan nama Koperasi Sidogiri, dan banyak usaha-usaha lain.

Komitmen Ponpes Sidogiri yang berdiri pada 1718 untuk tetap mempertahankan sistem madrasah diniyah sampai tingkat ma'had ali (setingkat universitas) yang bernama Tarbiyatul Mu'allimin dan pengiriman guru tugas ke berbagai penjuru nusantara dan luasnya jaringan alumninya menjadi faktor-faktor penting yang membuat Ponpes Sidogiri menjadi pilihan mudah sebagai pesantren terbaik, tertua dan paling berpengaruh di Indonesia. Lebih detail: Pondok Pesantren Sidogiri

2. PONDOK PESANTREN LANGITAN TUBAN

Ponpes Langitan yang berdiri pada tahun 1852 merupakan pesantren yang berpengaruh di kawasan Surabaya ke barat yaitu sepanjang kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Cepu. Figur kharismatik salah satu pengasuhnya yaitu KH Abdullah Faqih di kancah politik nasional juga menambah dikenalnya nama pesantren ini.

Ponpes Langitan patut mendapat respek karena kemampuannya untuk tetap eksis bahkan tumbuh dan berkembang tanpa harus merubah sistem pendidikannya yang menganut sistem salaf.

3. PONDOK MODERN GONTOR

Pondok Modern Gontor adalah pelopor dan inovator dari pesantren modern yang diilhami oleh antara lain modernisasi pendidikan Islam yang dilakukan oleh Sir Syed Ahmad Khan founder Aligarh Muslim University di India. Perubahan dari Ponpes Darussalam Gontor yang salaf menjadi modern membuat pesantren ini menjadi insstitusi pendidikan Islam yang menjadi tempat belajar masyarakat perkotaan yang dulunya enggan mondok pesantren.

Ciri khas dari pesantren modern ala Gontor antara lain kedisiplinan yang tinggi, kemampuan dan pembiasaan bahasa Arab dan Inggris dengan menjadikannya sebagai bahasa sehari-hari, dan kerapian pakaian dengan selalu bercelana dan berdasi saat sekolah, dll.

Gontor juga menjadi pelopor dari pesantren yang mengenakan biaya tinggi dan mahal pada santri. Suatu hal baru yang tidak lazim dilakukan pesantren khususnya di pesantrne salaf. Namun wali santri yang kelas menengah rela merogoh koceh lebih dalam asal sesuai dengan kualitas yang ditawarkan. Sekaligus ini menjadi kritik pada pesantren Modern khususnya dari kalangan rakyat miskin yang tidak mampu membayar mahal untuk pendidikan anak-anaknya.

Nilai minus lain dari sistem modern adalah kurangnya kemampuan santrinya pada penguasaan literatur Islam klasik yang dikenal dengan kitab kuning atau kitab gundul. Di samping itu, etika sopan santun relatif berbeda dengan santri di pesantren salaf.

Namun secara keseluruhan, sistem yang diterapkan Pondok Modern Gontor berjalan dengan sangat sukses. Dan setiap kesukesan selalu menciptakan tren baru. Saat ini banyak pesantren yang menyebut dirinya "modern" memfoto-copy apa yang dilakukan Gontor dengan beberapa modifikasi.

4. PONDOK PESANTREN TEBUIRENG JOMBANG

Pesantren Tebuireng dikenal karena figur pendirinya sosok ulama kharismatik pencetus organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926 yaitu Kyai Hasyim Asy'ari yang putranya-KH Wahid Hasyim-- menjadi Menteri Agama pertama Republik Indonesia sedang cucunya yang bernama KH Abdurrahman "Gus Dur" Wahid menjadi presiden keempat RI dan yang pertama berasal dari kalangan santri.

Dari sisi sistem pendidikan, Ponpes Tebuireng tidak menganut suatu sistem yang inovatif seperti layaknya Gontor atau mempertahankan sistem salaf seperti Langitan atau Sidogiri. Ponpes Tebuireng cenderung agak stagnan mungkin karena figur pimpinannya lebih sering berada di Jakarta daripada di Jombang. Namun demikian, Pondok Tebuireng tetap eksis dengan sistem pendidikan akomodatif yaitu pendidikan formal dan sedikit pendidikan diniyah. Lebih detail: Pondok Pesantren Tebuireng.

5. PONDOK PESANTREN AL-KHAIRAAT PALU

Pesantren Al-Khairaat merupakan pesantren terpopuler dan paling berpengaruh di luar Jawa khususnya di Sulawesi dan Indonesia Timur. Dan pesantren besar pertama yang didirikan dan diasuh oleh seorang habaib.

Pesantren Al-Khairaat memiliki banyak cabang di berbagai daerah di kawasan Indonesia Timur. Apabila ditotal jumlah santri seluruhnya mencapai puluhan ribu.

6. PONDOK PESANTREN DARUL ULUM BANYUANYAR MADURA

LPI Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan Madura -- atau lebih dikenal dengan Pondok Banyuanyar-- adalah termasuk dari 5 (lima) pesantren tertua di Indonesia. Didirikan pada 1787 oleh Kyai Itsbat, pesantren ini berkembang dengan pesat sampai sekarang.

Di Madura khususnya kabupaten Pameksan, pesantren Banyuanyar memiliki pengaruh yang tidak kecil. Sistem pendidikan di pesantren ini menganut sistem kombinasi salaf dan modern. Penguasaan kitab kuning tetap dipelihara dan pendidikan formal yang sesuai kurikulum pemerintah juga diadakan untuk memenuhi tantangan dan tuntutan zaman. Oleh karena itu, tidak heran banyak alumni pesantren ini yang sudah memjadi tokoh berpengaruh.


7. PONDOK PESANTREN NURUL JADID PROBOLINGGO

Ponpes Nurul Jadid Paiton dapat dikatakan sebagai pesantren paling lengkap sarana pendidikan formalnya selain pendidikan agama. Pesantren ini memiliki lembaga pendidikan dari yang paling bawah seperti TK, SLTP (MTS, SMP), SLTA (SMA, MA, SMK) sampai perguruan tinggi dengan berbagai jurusan baik agama (STAINJ) maupun sains seperti teknologi informasi (STT Nurul Jadid) dan kesehatan (STIKES).

Selain itu, madrasah diniyah, ma'had aly dan tahfidz Al-Quran juga tersedia di pesantren ini sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak mengirimkan putranya ke pesantren dengan alasan ketiadaan jurusan yang dicari. Lebih detail: Ponpes Nurul Jadid Paiton


8. PONDOK PESANTREN MUSTHOFAWIYAH PURBA SUMUT

Pesantren tertua di Sumatera Utara ini merupakan pesantren paling populer dan terbaik di daerah Sumut dan juga tertua (berdiri tahun 1912). Alumninya sudah banyak yang menjadi tokoh lokal dan nasional. Tidak sedikit yang melanjutkan studi ke luar negeri baik di kawasan Timur Tengah maupun Barat.

Pesantren Purba Baru, begitu pesantren ini biasa dikenal, adalah pesantren kombinasi antara sistem modern dan salaf. Modern karena adanya sistem pendidikan formal dan salaf karena juga mengajarkan kitab kuning. Lebih detail: Pesantren Musthowaiyah Purba Baru


9. PONDOK PESANTREN BUNTET CIREBON

Pondok Pesantren yang sangat terkenal di kawasan Jawa Barat dan termasuk salah satu pesantren tertua (berdiri sejak tahun 1785) di Indonesia.

Pesantren ini menjadi cikal bakal pesantren lain di provinsi Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta. Banyak dari pengasuh pesantren di ketiga kawasan tersebut merupakan alumni dari Pesantren Buntet. Dengan demikian, pesantren ini patut disebut sebagai salah satu pesantren paling berpengaruh. Sistem pendidikan menganut kombinasi antara salaf dan modern. Lebih detail: Pondok Pesantren Buntet Cirebon


10. PONDOK PESANTREN AL-KHOIROT MALANG

Ponpes Al-Khoirot Malang termasuk yang relatif muda (berdiri tahun 1963) apabila dibandingkan dengan pesantren lain yang masuk 10 besar pesantren terbaik. Yang membedakan pesantren ini dari pesantren lain adalah kemampuannya dalam memadukan sejumlah sistem pendidikan dalam satu paket pendidikan yang holistik untuk semua santri. Tak heran, pengasuh Pondok Pesantren Banyuanyar saat ini pun termasuk salah satu alumni Ponpes Al-Khoirot.

Sistem pendidikan yang dianut di pesantren Al-Khoirot adalah kombinasi dari 4 (empat) jenis pola yaitu pendidikan formal, pendidikan madin (madrasah diniyah) yang 100% agama, bahasa Arab modern dan kajian kitab kuning tingkat advanced (pendalaman). Keempat aktifitas pendidikan ini merupakan kegiatan utama yang harus diikuti oleh semua santri. Sehingga santri tidak hanya memiliki bekal ijazah formal tapi juga menguasai kitab kuning dan lancar berbahasa Arab. Selain itu, ada program tambahan seperti tahfidzul Quran (menghafal Quran), yang merupakan program pilihan dan Ma'had Aly .

Bagi santri tingkat advanced, program Ma'had Aly menjadi program khusus yang bertujuan untuk penguasaan santri atas sistem pengambilan hukum (istinbat al-hukm).

Yang tak kalah penting dari itu semua adalah pendidikan akhlaq al-karimah yaitu pendidikan budi luhur ala santri yang diharapkan menjadi puncak pencapaian dari ilmu-ilmu yang dimiliki.

Di samping itu, dengan memanfaatkan teknologi informasi, Pondok Pesantren Al-Khoirot memiliki program pengabdian masyarat berupa Konsultasi Agama Islam secara online melalui internet. Layanan gratis ini dibimbing oleh Dewan Pengasuh Ponpes Al-Khoirot sendiri. Konsultasi agama ini mendapat sambutan luas masyarakat muslim baik di Indonesia maupun di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia.

Kirimkan persoalan Anda ke [email protected] atau [email protected]

Layanan Konsultasi Agama melalui internet oleh Pesantren Al-Khoirot Malang merupakan layanan pertama dan satu-satunya yang diadakan oleh sebuah pesantren baik pesantren salaf maupun modern. Sehingga, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dapat dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh santri yang belajar di dalam kompleks pesantren akan tetapi juga oleh mereka yang dapat mengakses internet di seluruh dunia.

Lebih detail: www.alkhoirot.com

Demikian informasi seputar 10 Pesantren Terbaik di Indonesia

Sunday, February 16, 2020

Hukum Upah Penceramah dan Guru Agama

Hukum Upah Penceramah dan Guru Agama
HUKUM GURU AGAMA DAN PENCERAMAH DAI MUBALIGH USTADZ MENERIMA ATAU MEMINTA UPAH, GAJI, BAYARAN, HONOR

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Pak Ustadz saya pernah denger jika ada seorang guru Agama Islam di niat ngajar karena niatnya hanya dapat honor semata bukan karena Alloh, ada orang yg menghukumi itu syirik kecil apa benar pak?

Wassalam

JAWABAN

Pertanyaan tersebut (syirik kecil) itu tidak benar karena dua hal: pertama, hukum syariat atau hukum taklifi untuk menilai suatu perbuatan itu ada lima yaitu halal, haram, makruh, sunnah dan mubah. Tidak ada kata "syirik" yang digunakan dalam hukum syariat. Kata 'syirik' digunakan untuk menilai suatu perbuatan sangatlah tidak tepat. Kedua, mayoritas ulama menganggap mengambil upah dari mengajar Al-Quran bagi guru agama atau penceramah agama secara umum adalah boleh dan halal. Sedangkan madzhab Hanafi dirinci.

URAIAN

Dalam sebuah hadis Nabi bersabda tentang bolehnya mahar nikah dengan ayat Al-Quran:

زَوِّجْنِيهَا قَالَ : أَعْطِهَا ثَوْبًا ، قَالَ : لَا أَجِدُ قَالَ : أَعْطِهَا وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ ، فَاعْتَلَّ لَهُ ، فَقَالَ : مَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ؟ قَالَ : كَذَا وَكَذَا قَالَ : فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ)

Artinya: Ada seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untuk Allâh dan Rasul-Nya.” (Mendengar ini-red) lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Saya tidak membutuhkan wanita.’ Ada seseorang yang berkata, “(Tolong) nikahkan dia denganku!’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Berikan dia baju!’ Orang tadi berkata, ‘Saya tidak punya.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Berilah dia (mahar) meskipun dengan cincin besi!’ Lalu orang itu sedih (karena ia tidak punya itu). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apakah anda mempunyai (hafalan) al-Qur’an?’ Orang itu menjawab, ‘Ini dan ini.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, ‘Sungguh, saya telah menikahkan anda dengan dia dengan (mahar) al-Qur’an yang anda punya.’ [HR. Al-Bukhâri, no. 4741 dan Muslim, no. 1425]


Nabi bersabda dalam hadis sahih tentang bolehnya mengambil upah dari ruqyah dengan ayat Al-Quran:

أَنَّ نَفَراً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرُّوا بِمَاءٍ فِيهِمْ لَدِيغٌ ، فَعَرَضَ لَهُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَاءِ فَقَالَ : هَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ إنَّ فِي الْمَاءِ رَجُلاً لَدِيغًا ؟ فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنْهُمْ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ عَلَى شَاءٍ [أي : مجموعة من الغنم]، فَبَرَأَ ، فَجَاءَ بِالشَّاءِ إِلَى أَصْحَابِهِ ، فَكَرِهُوا ذَلِكَ ، وَقَالُوا : أَخَذْتَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْراً ؟ حَتَّى قَدِمُوا الْمَدِينَةَ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَخَذَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْراً ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : (إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ)

Artinya: Sesungguhnya sekelompok Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun di suatu lembah dimana diantara mereka ada yang terkena sengatan, seorang penduduk dari lembah bertanya kepada mereka dengan mengatakan, “Apakah ada diantara anda orang ahli meruqyah karena ada orang dari lembah terkena sengatan?” Maka salah seorang diantara para Sahabat pergi lalu dia membacakan surat al-Fâtihah dengan imbalan seekor kambing. Kemudian sembuh, dan dia membawa kambing ke teman-temannya. Sementara mereka kurang suka. Dan mereka mengatakan, “Apakah anda mengambil upah dari Kitab Allâh?” Sampai akhirnya, mereka tiba di Madinah dan mengatakan, “Wahai Rasûlullâh! (Dia) mengambil upah dari Kitab Allâh.” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling berhak anda ambil upah adalah dari Kitab Allâh.” [HR. Al-Bukhâri, no. 5405]

Kejadian serupa di mana Sahabat mendapat upah kambing atas ruqyah dengan al-Quran dan Nabi membolehkannya:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ العَرَبِ فَلَمْ يَقْرُوهُمْ، فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ، إِذْ لُدِغَ سَيِّدُ أُولَئِكَ، فَقَالُوا: هَلْ مَعَكُمْ مِنْ دَوَاءٍ أَوْ رَاقٍ؟ فَقَالُوا: إِنَّكُمْ لَمْ تَقْرُونَا، وَلاَ نَفْعَلُ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا، فَجَعَلُوا لَهُمْ قَطِيعًا مِنَ الشَّاءِ، فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ القُرْآنِ، وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ، فَبَرَأَ فَأَتَوْا بِالشَّاءِ، فَقَالُوا: لاَ نَأْخُذُهُ حَتَّى نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلُوهُ فَضَحِكَ وَقَالَ: «وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ، خُذُوهَا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ

Artinya: Diriwayatkan dari Sahabat Abi Said Al-Khudri Radliyallahu ‘Anhu bahwa sekelompok sahabat mendatangi suatu kabilah dari beberapa kabilah Arab, namun mereka tidak mempersilakan masuk terhadap para sahabat. Hal itu terus berlangsung, sampai suatu ketika pemuka kabilah tersebut digigit (ular), lalu mereka berkata ‘Apakah kalian membawa obat atau adakah orang yang bisa meruqyah?’ Para sahabat pun menjawab ‘Kalian tidak mempersilakan masuk pada kami, kami tidak akan meruqyahnya (mengobatinya) sampai kalian memberikan upah pada kami.’ lalu mereka pun memberikan beberapa potongan kambing sebagai upah, lalu seorang sahabat membaca Surat Al-Fatihah, dan mengumpulkan air liurnya lalu mengeluarkannya (baca: melepeh) hingga sembuhlah pemuka kabilah yang tergigit ular, dan mereka memberikan kambing. Para sahabat berkata, ‘Kami tidak akan mengambilnya, sampai kami bertanya pada Rasulullah.’ Mereka pun menanyakan perihal kejadian tersebut pada Rasulullah, beliau lalu tertawa dan berkata: ‘Apa itu Ruqyah? Ambillah, dan berilah bagian untukku’.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam menjelaskan hadis di atas, Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim, hlm 14/355, menjelaskan:

باب جواز أخذ الأجرة على الرقية بالقرآن والأذكار

قوله صلى الله عليه وسلم : ( خذوا منهم واضربوا لي بسهم معكم ) هذا تصريح بجواز أخذ الأجرة على الرقية بالفاتحة والذكر ، وأنها حلال لا كراهة فيها ، وكذا الأجرة على تعليم القرآن ، وهذا مذهب الشافعي ومالك وأحمد وإسحاق وأبي ثور وآخرين من السلف ومن بعدهم ، ومنعها أبو حنيفة في تعليم القرآن ، وأجازها في الرقية .

Artinya: Bab tentang bolehnya mengampil upah atas ruqyah dengan Al-Quran dan dzikir. Adapun sabda Nabi "Ambillah, dan berilah bagian untukku" ini penjelasan atas bolehkan mengambil upah atas ruqyah (pengobatan) dengan Al-Fatihah dan dzikir. Dan bahwa upah itu halal, tidak ada kemakruhan atasnya. Begitu juga upah atas mengajar al-Quran. Ini pandangan madzhab Syafi'i, madzhab Maliki, Hanbali, Ishaq, Abu Tsaur dari kalangan salaf dan generasi setelahnya. (akan tetapi) Abu Hanifah melarang mengambil upah dari mengajar Al Quran dan membolehkan upah untuk ruqyah.

Kesimpulan

Menerima upah atau bahkan meminta upah dari mengajar Al-Quran, penceramah agama, khatib Jumat dan hari Raya atau guru agama secara umum termasuk ruqyah dengan bacaan Al-Quran adalah boleh dan halal menurut mayoritas ulama madzhab empat berdasarkan sejumlah hadis sahih yang disebutkan di atas.

CATATAN

Kami sarankan agar Anda lebih selektif dalam membaca artikel agama di internet. Baik melalui video di Youtube, artikel agama di situs/website maupun di media sosial (WhatsApp, Twitter, Facebook, dll) agar tidak terjerumus pada radikalisme yang justru akan menjauhkan anda dari ajaran agama yang sebenarnya.

Belajarlah agama dari internet melalui situs-situs berikut: Daftar Situs Aswaja

Dan hindari belajar dari situs-situs berikut: Daftar Situs Wahabi Salafi

Thursday, January 09, 2020

Hibah Dan Warisan dari Ibu

Hibah Dan Warisan dari Ibu
HIBAH DAN WARISAN

Assalamu'alaikum. Saya mau bertanya mengenai pembagian harta dari ibu saya. Ketika hidup dan dalam kondisi sehat, ibu saya mengatakan tanah A untuk kakak laki-laki saya, tanah B untuk saya, dan tanah+rumah C untuk adik perempuan saya. Tanah A & B adalah tanah warisan kakek saya. Sedangkan tanah+rumah C ada setelah menikah dg ayah saya, tapi itu dari hasil ibu saya kerja. Pada saat itu kami belum mengetahui mengenai pertanahan yang ternyata harga tanah dan luasnya berbeda-beda. Kami hanya nerimo. Kami juga baru bisa menjual tanah peninggalan setelah kedua orang tua saya meninggal. Saat itu kami belum tahu juga syariat Islam bagaimana dalam pembagian harta setelah ibu meninggal (hal sensitif yang kami gak mau jadi ribut). Tp sekarang setelah orang tua meninggal timbul masalah saat harus menjual tanah. Tanah B dijual dengan harga 15 juta, tanah+rumah C dijual dengan harga lebih dari 140 juta. Saya merasa pembagian tidak adil.
Yang saya ingin tanyakan:
1. Apakah benar pembagian tanah yg dilakukan oleh ibu saya?
2. Apakah ayah saya jadi tidak memiliki hak untuk tanah-tanah tersebut (ibu meninggal duluan)?
3. Ketentuan pembagian yang sesuai syariah bagaimana?
Saya takut masuk neraka hanya karena harta, tapi saya juga belum paham mengenai ilmu hak waris serta kakak saya cuek saja.
4. Kakak saya mengatakan tanah A tidak boleh diganggu. Hasil penjualan tanah B & C dia gak mau ambil. Bagaimana solusinya? Apakah saya dan adik saya boleh bagi 2 (masing-masing 72.5 juta) atau tetap uang tanah B hak saya dan tanah C hak adik saya?

Mohon penjelasannya. Ini sangat urgent. Jazakumullah khairan

JAWABAN

1. Kalau tanah A + B itu milik ibu, di mana beliau mendapat warisan dari ayahnya (kakek anda), maka berarti tanah tersebut adalah menjadi hak milik ibu anda. Apabila demikian, maka selagi dia masih hidup dia berhak untuk memberikan tanah tersebut pada siapapun sama saja pada anak-anaknya atau pada orang lain. Dengan demikian, maka hukumnya boleh dan benar bagi ibu anda menghibahkan hartanya selagi dia melakukan itu saat masih hidup.

Begitu juga, boleh dan sah bagi ibu anda untuk memberikan tanah + rumah C diberikan pada salah satu anaknya apabila harta tersebut memang milik beliau pribadi.
Baca detail: Hibah dalam Islam

2. Ya, ayah anda sebagai suami tidak berhak atas harta milik istri yang sudah dihibahkan oleh si istri saat masih hidup.

Suami hanya berhak mendapat warisan 1/4 atas harta warisan istri. Yakni, harta yang belum dihibahkan atau diwasiatkan saat masih hidup.

3. a) Untuk harta ibu anda yang sudah dihibahkan saat ibu masih hidup, maka harta tersebut bukan harta warisan namun sudah menjadi hak milik dari masing-masing orang yang diberi hibah.

b) Untuk harta yang belum dihibahkan oleh ibu, maka harta itu menjadi harta warisan dan harus diberikan kepada ahli waris sesuai dg sistem waris Islam. Adapun pembagiannya adalah seluruh harta warisan (di luar yang dihibahkan) adalah untuk seluruh anak kandung dengan sistem 2:1. Yakni, anak laki-laki mendapat dua kali lipat dari anak perempuan. Baca detail: Hukum Waris Islam

4. Sesuai hibah dari ibu, maka: Tanah A untuk kakak laki-laki Anda. Tanak B untuk Anda. Tanak C plus rumah untuk adik anda. Itu yang harus dilaksanakan. Sekali lagi, itu bukan waris melainkan hibah. Baca detail: Hibah dalam Islam

WARISAN UNTUK SUAMI DAN ANAK KANDUNG LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Assallamu Allaikum

Saya mempunyai hak waris dari peninggalan almarhum ibu.
Saya anak dari almarhum ibu dari suami pertama ( meninggal di th.2019 - juni).
Ibu mendapatkan hak waris dari almarhum kakek dan nenek , yg mana mereka ( kakek & nenek kami mengumpulkan harta pd saat ayah & ibu kami masih utuh sbg suami istri ).
Setelah Ibu kami bercerai dan menikah lagi dgn suami yg baru , tidak ada harta dr kakek & nenek yg dihasilkan setelah ibu menikah dengan Ayah tiri.

Dari suami pertama ibu punya 2 anak Saya( laki ) dan kakak saya ( perempuan ). Dari suami yg sekarang ada 2 anak ( laki & perempuan ).

Pertanyaan saya , apakah Suami ibu ( ayah tiri ) berhak mendapatkan Hak waris dari ibu ( pemberian kakek & nenek ) .
Sebagai catatan : Ayah tiri kami tidak mengakui kami sebagai anak tp diakui sebagai keponakan kepada tegangganya. Dan kami terzholimi. Hingga membekas rasa sakit hati sampai sekarang .

Terima kasih , mudah mudahan ada pencerahan ya Pak Ustad. Wassallam

JAWABAN

Kalau ibu anda kelak meninggal dunia lebih dulu dari ayah tiri, maka ayah tiri anda akan mendapat bagian sebagai suami asalkan tidak terjadi perceraian sebelum istri wafat. Rinciannya sbb:

a) Suami (ayah tiri anda) mendapat 1/4
b) Sisanya yang 3/4 diwariskan pada seluruh anak kandung baik dari suami pertama maupun dari suami kedua. Dengan rincian sbb: (i) dua anak lelaki masing-masing mendapat 2/6; (ii) dua anak perempuan masing-masing mendapat 1/6.
Baca detail: Hukum Waris Islam

Kalau ayah tiri anda yang meninggal lebih dari dari ibu anda, maka ayah tiri anda tidak mendapat warisan. Sebaliknya, justri ibu anda yang akan mendapat warisan atas nama istri dg syarat tidak terjadi perceraian saat hidup. Rinciannya sbb:

a) Istri (ibu anda) mendapat 1/8
b) Sisanya yg 7/8 diwariskan pada Dua anak kandung (saudara seibu anda) 1 anak lelaki mendapat 2/3, 1 anak perempuan mendapat 1/3.
c) Anak tiri (yakni anda dan kakak kandung) tidak mendapat warisan apapun.

CATATAN

Darimanapun harta ibu anda berasal, apakah dari warisan atau usaha sendiri, selagi harta itu milik ibu anda maka kelak harta tersebut akan diwariskan pada ahli waris di mana suami termasuk salah satu ahli waris apabila suami meninggal lebih akhir.
Baca detail: Bagian Waris Suami

Tuesday, January 07, 2020

Merubah Niat Sholat Saat Sedang Shalat

Merubah Niat Sholat Saat Sedang Shalat
MERUBAH NIAT SHALAT FARDHU KE FARDHU YANG LAIN

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Pak ustadz, apakah hukum merubah niat sholat fardhu yang satu ke shalat fardhu yg lain karena lupa menurut ulama empat Mazhab? Soalnya ada yang bilang sah kalo seorang sudah niat sholat magrib sebelumnya, terus pas mau sholat melamun jadi niatnya shalat isya, dan sadar pas setelah takbir. Mohon penjelasan tadz ?

Wassalam

JAWABAN

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/183-184, menjelaskan pandangan madzhab Syafi'i sbb:

قال الماوَرْدِيُّ: نقلُ الصلاةِ إلى صلاةٍ أقسامٌ: أحدُها: نقلُ فرضٍ إلى فرض: فلا يحصلُ واحدٌ منهما، الثاني: نقلُ نفلٍ راتبٍ إلى نفلٍ راتبٍ؛ كَوِتْرٍ إلى سنةِ الفجر فلا يحصلُ واحدٌ منهما، الثالث: نقلُ نفلٍ إلى فرضٍ فلا يحصل واحدٌ منهما. انتهى .

Artinya: Al Mawardi membagi perubahan niat shalat ke dalam beberapa jenis: satu, merubah niat shalat fardhu ke shalat fardhu yang lain. Kedua shalat sama-sama tidak sah. Dua, merubah shalat sunnah rawatib (tidak mutlak) ke shalat sunnah rawatib yang lain, seperti shalat witir ke shalat sunnah subuh. Keduanya juga sama-sama tidak sah. Tiga, merubah shalat sunnah ke shalat fardhu. Juga tidak sah.

Namun, kalau shalat fardhu dirubah ke shalat sunnah mutlak, maka itu dibolehkan. Sebagaimana penjelasan Al-Malibari dalam Fathul Muin dan Al-Bakri dalam Ianah At-Tolibin, hlm. 1/263, sbb:

ﻭﻧﺪﺏ ﻟﻤﻨﻔﺮﺩ ﺭﺃﻯ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﺸﺮﻭﻋﺔ ﺃﻥ ﻳﻘﻠﺐ ﻓﺮﺿﻪ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﻻ ﺍﻟﻔﺎﺋﺖ ﻧﻔﻼ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻳﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻘﻢ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ . ﻧﻌﻢ ﺇﻥ ﺧﺸﻲ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺇﻥ ﺗﻤﻢ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺍﺳﺘﺤﺐ ﻟﻪ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﺳﺘﺌﻨﺎﻓﻬﺎ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺫﻛﺮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ . ﻭﺑﺤﺚ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﻠﻢ ﻭﻟﻮ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺔ ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺃﺗﻤﻬﺎ ﻧﺪﺑﺎ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺨﺶ ﻓﻮﺕ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺛﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ .
(قوله أما إذا قام لثالثة الخ …. ) محترز إذا لم يقم لثالثة . (قوله أتمها ندبا) فلو خالف وقلبها نفلا وسلم لم يندب ولكنه يجوز كما مر . (قوله إن لم يخش فوت الجماعة) فإن خشي فوتها قطعها واستأنفها مع الجماعة

Artinya: Sunnah bagi yang shalat fardhu sendirian apabila melihat shalat berjamaah untuk merubah niat shalat fardhu yang hadir (bukan qadha) merubah ke shalat sunnah mutlak dan salam setelah 2 rokaat apabila dia belum berdiri untuk rokaat ketiga. Lalu masuk ikut shalat berjamaah. Akan tetapi apabila takut ketinggalan jamaah apabila menyempurnakan 2 rakaat maka sunnah baginya memutuskan shalat dan memulai ikut shalat jamaah, sebagaimana disebut An Nawawi dalam Al-Majmuk. Al Bulqini berpendapat bahwa dia (orang yang shalat sendirian) hendaknya mengucapkan salam (untuk mengakhiri shalat) walaupun baru satu rakaat. Adapun apabila ia berdiri untuk rakaat ketiga maka sunnah menyempurnakan shalat (fardhu) apabila tidak kuatir akan ketinggalan berjamaah. Lalu lalu masuk ke shalat berjamaah.

Hal yang sama dijelaskan oleh ulama madzhab Syafi'i yang lain yaitu Khatib Al Syarbini. Dalam Al Iqna', hlm. 1/151, ia menyatakan:

( ﻭ ) ﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺱ ( ﺗَﻐْﻴِﻴﺮ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ) ﺇِﻟَﻰ ﻏﻴﺮ ﺍﻟْﻤَﻨﻮِﻱ ﻓَﻠَﻮ ﻗﻠﺐ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻫُﻮَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺻَﻠَﺎﺓ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻋَﺎﻟﻤﺎ ﻋَﺎﻣِﺪًﺍ ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻭَﻟَﻮ ﻋﻘﺐ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔ ﺑِﻠَﻔْﻆ ﺇِﻥ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪ ﺃَﻭ ﻧَﻮَﺍﻫَﺎ ﻭَﻗﺼﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﺘَّﺒَﺮُّﻙ ﺃَﻭ ﺃَﻥ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞ ﻭَﺍﻗﻊ ﺑِﺎﻟْﻤَﺸِﻴﺌَﺔِ ﻟﻢ ﻳﻀﺮ ﺃَﻭ ﺍﻟﺘَّﻌْﻠِﻴﻖ ﺃَﻭ ﻃﻠﻖ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻟﻠﻤﻨﺎﻓﺎﺓ ﻭَﻟَﻮ ﻗﻠﺐ ﻓﺮﺿﺎ ﻧﻔﻼ ﻣُﻄﻠﻘًﺎ ﻟﻴﺪﺭﻙ ﺟﻤَﺎﻋَﺔ ﻣَﺸْﺮُﻭﻋَﺔ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﻨْﻔَﺮﺩ ﻭَﻟﻢ ﻳﻌﻴﻦ ﻓَﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻟﻴﺪﺭﻛﻬﺎ ﺻَﺢَّ ﺫَﻟِﻚ ﺃﻣﺎ ﻟَﻮ ﻗَﻠﺒﻬَﺎ ﻧﻔﻼ ﻣﻌﻴﻨﺎ ﻛﺮﻛﻌﺘﻲ ﺍﻟﻀُّﺤَﻰ ﻓَﻠَﺎ ﺗﺼﺢ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻻﻓﺘﻘﺎﺭﻩ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻌْﻴِﻴﻦ ﺃﻣﺎ ﺇِﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﺸﺮﻉ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔ ﻛَﻤَﺎ ﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟﻈّﻬْﺮ ﻓَﻮﺟﺪَ ﻣﻦ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺍﻟْﻌَﺼْﺮ ﻓَﻠَﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟْﻘﻄﻊ ﻛَﻤَﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺠْﻤُﻮﻉ

Artinya: Yang keenam adalah merubah niat pada yang selain diniati. Apabila ia merubah shalat yang sedang dilakukan ke shalat yang lain secara sengaja dan tahu maka batal shalatnya. Apabila menyertakan niat dengan kata "insyaAllah" atau berniat dengan maksud tabaruk atau pekerjaan itu terjadi dengan 'insyaAllah' maka tidak apa-apa, atau taklik (kondisional) atau talak maka tidak sah shalatnya karena itu menafikan. Apabila merubah niat dari fardhu ke sunnah agar dapat mengikuti shalat jamaah sedangkan dia dalam keadaan sendirian dan sunnahnya tidak tertentu lalu mengucapkan salam dari dua rakaat agar bisa mengikuti shalat berjamaah yang disyariatkan maka hal itu sah. Namun apabila mengganti niat ke sunnah yang tertentu seperti dua rokaat dhuha maka tidak sah shalatnya karena itu butuh pada penentuan. Adapun apabila shalat berjamaah itu tidak disyariatkan seperti ia sedang shalat zhuhur lalu dia melihat ada yang shalat berjamaah ashar maka tidak boleh memutus shalat (yg sedang dilakuan) sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmuk.

PANDANGAN ULAMA EMPAT MADZHAB

Ulama dari madzhab empat memiliki pandangan yang kurang lebih sama terkait merubah niat shalat saat sedang shalat. Dalam Al Mausuah Al Fiqhiyah, hlm. 9/297, dijelaskan pandangan empat madzhab sbb:

للفقهاء في أثر تحويل النية تفصيل :
ذهب الحنفية إلى أن الصلاة لا تبطل بنية الانتقال إلى غيرها ولا تتغير , بل تبقى كما نواها قبل التغيير , ما لم يكبر بنية مغايرة , بأن يكبر ناويا النفل بعد الشروع في الفرض أو عكسه , أو الاقتداء بعد الانفراد وعكسه , أو الفائتة بعد الوقتية وعكسه . ولا تفسد حينئذ إلا إن وقع تحويل النية قبل الجلوس الأخير بمقدار التشهد , فإن وقع بعده وقبيل السلام لا تبطل .

وعند المالكية : نقل النية سهوا من فرض إلى فرض آخر أو إلى نفل سهوا , دون طول قراءة ولا ركوع , مغتفر . قال ابن فرحون من المالكية : إن المصلي إن حول نيته من فرض إلى نفل , فإن قصد بتحويل نيته رفع الفريضة ورفضها بطلت ـ أي بطلت الفريضة وصارت نفلا ـ, وإن لم يقصد رفضها لم تكن نيته الثانية منافية للأولى . لأن النفل مطلوب للشارع , ومطلق الطلب موجود في الواجب , فتصير نية النفل مؤكدة لا مخصصة .

وعند الشافعية : لو قلب المصلي صلاته التي هو فيها صلاة أخرى عالما عامدا بطلت , فإن كان له عذر صحت صلاته , وانقلبت نفلا . وذلك كظنه دخول الوقت , فأحرم بالفرض , ثم تبين له عدم دخول الوقت فقلب صلاته نفلا , أو قلب صلاته المنفردة نفلا ليدرك جماعة . لكن لو قلبها نفلا معينا كركعتي الضحى لم تصح . أما إذا حول نيته بلا سبب أو غرض صحيح فالأظهر عندهم بطلان الصلاة .

وعند الحنابلة : أن بطلان الصلاة مقيد بما إذا حول نيته من فرض إلى فرض , وتنقلب في هذه الحال نفلا . وإن انتقل من فرض إلى نفل فلا تبطل , لكن تكره , إلا إن كان الانتقال لغرض صحيح فلا تكره , وفي رواية : أنها لا تصح , كمن أدرك جماعة مشروعة وهو منفرد , فسلم من ركعتين ليدركها , فإنه يسن له أن يقلبها نفلا , وأن يسلم من ركعتين , لأن نية الفرض تضمنت نية النفل , فإذا قطع نية الفرض بقيت نية النفل .

ومن هذا التفصيل يتبين اتفاق الفقهاء على أن تحويل نية الصلاة من نفل إلى فرض لا أثر له في نقلها , وتظل نفلا , وذلك لأن فيه بناء القوي على الضعيف , وهو غير صحيح . (انتهى).

Artinya: "Terkait dampak dari merubah niat, ulama fikih merinci sbb:

a) Madzhab Hanafi berpendapat bahwa shalat tidak batal oleh niat untuk berubah ke shalat yang lain dan shalatnya tidak berubah. Shalatnya tetap sebagaimana niat yang pertama dengan syarat selagi ia belum takbirotul ihrom dengan niat yang baru. Seperti takbir dengan niat shalat sunnah saat sedang shalat fardhu atau sebaliknya; atau niat bermakmum saat sedang shalat sendirian atau sebaliknya; atau niat shalat qadha saat sedang shalat tepat waktu dan sebaliknya. Perubahan niat itu tidak membatalkan shalat kecuali apabila perubahan niat itu terjadi sebelum duduk terakhir dengan perkiraan waktu tahiyat. Apabila terjadi setelah duduk terakhir dan sebelum salam maka tidak batal.

b) Madzhab Maliki berpendapat: merubah niat karena lupa dari fardhu ke fardhu yang lain atau ke sunnah karena lupa, tanpa bacaan panjang dan tanpa rukuk itu dimaafkan. Ibnu Farhun berkata: mushalli (orang yg shalat) apabila merubah niatnya dari fardhu ke sunnah: i) apabila perubahan niatnya itu bermaksud untuk menghilangkan kefardhuan dan menolaknya maka batal - yakni batal fardhunya dan menjadi sunnah; ii) apabila tidak bermaksud menolak kefardhuan maka niat kedua tidak menghilangkan niat yang pertama. Karena sunnah itu yang dikehendaki bagi syari'. tuntutan yang mutlak itu ada dalam wajib. Maka ia menjadi niat muakkad, bukan khusus.

c) Madzhab Syafi'i berpendapat: Apabila mushalli (orang yg shalat) merubah niat shalat dari yang sedang dia lakukan ke shalat yang lain secara sengaja dan tahu dampak hukumnya maka batal shalatnya. Apabila karena udzur maka sah shalatnya dan berubah menjadi shalat sunnah. Hal itu dianalogikan dengan orang yang menduga sudah masuk waktu shalat lalu takbirotul ihrom shalat fardhu dan setelah itu baru menyadari belum masuk waktu shalat lalu dia merubah shalatnya ke sunnah; atau ia merubah shalatnya yg sendirian ke sunnah agar dapat mengikuti shalat berjamaah. Akan tetapi apabila ia merubah niatnya ke sunnah yang tertentu (bukan mutlak) seperti dua rokaat dhuha maka tidak sah. Adapun apabila merubah niatnya tanpa sebab atau tanpa tujuan yang benar maka menurut pendapat terkuat hukumnya batal shalatnya.

d) Madzhab Hanbali berpendapat: Batalnya shalat itu terjadi apabila mushalli merubah niat dari shalat fardhu ke shalat wajib yang lain. Dalam kondisi ini maka shalatnya berubah menjadi shalat sunnah. Apabila ia merubah niat dari shalat fardhu ke shalat sunnah, maka shalatnya tidak batal tetapi makruh. Kecuali apabila perubahan niat itu untuk tujuan yang benar maka tidak makruh. Dalam satu riwayat dikatakan: bahwa shalatnya tidak sah sebagaimana orang yang dapat mengikuti shalat berjamaah sedangkan dia shalat sendirian, lalu mengucap salam dari dua rakaat agar dapat ikut shalat berjemaah. Maka dalam hal ini sunnah baginya untuk merubah niat ke shalat sunnah dan mengucapkan salam apabila sampai dua rakaat. Karena niat fardhu itu mengandung niat shalat sunnah. Apabila ia memutus niat fardhu maka masih tersisa niat shalat sunnah.

Dari uraian ini menjadi jelas bahwa ulama fikih bersepakat bahwa merubah niat shalat dari sunnah ke fardhu itu tidak ada pengaruhnya dan tetap menjadi sunnah. Hal itu terjadi karena ini berarti membangun yang kuat dari yang lemah itu tidak benar."

Kesimpulan

Merubah niat shalat, saat sedang shalat, dari fardhu ke fardhu yang lain itu tidak sah. Baik menurut madzhab Syafi'i maupun menurut tiga madzhab yang lain. Adapun merubah niat dari fardhu ke sunnah mutlak itu boleh terutama bagi mushalli yang sedang shalat fardhu sendirian dan ingin bergabung dengan shalat berjamaah.
Baca detail: Shalat Berjamaah

Saturday, December 28, 2019

Mandi Junub: Diduga Kuat Air Sudah Merata itu Sudah Sah

Mandi Junub: Diduga Kuat Air Sudah Merata itu Sudah Sah

Cara mandi junub (mandi besar, mandi wajib) yang sah dan syar'i tidak perlu susah. Cukup diawali dengan niat mandi dan mengalirkan air ke seluruh tubuh, itu sudah cukup. Tidak perlu menggosok tubuh. Juga tidak perlu bimbang ada anggota tubuh yang tidak terkena air. Asal siraman air sudah merata maka dugaan sudah meratanya air itu sudah mencukupi secara syariah.
TOPIK KONSULTASI ISLAM

CARA MANDI JUNUB YANG SYAR'I

Berarti jika saya sudah berasumsi kuat dan meyakini bahwa air sudah merata pada seluruh tubuh pada saat mandi wajib itu sudah sah dan kalau ada perasaan was-was itu harus diabaikan.

1. Lalu bagaimana cara membedakan was-was dengan kebenaran ? Ketika saya ingin mengabaikan was-was saya selalu terpikir bagaimana jika air belum rata itu adalah kebenarannya bukan was-was ?

JAWABAN

1. Dalam soal meratanya air saat mandi wajib, maka kebenaran 100% itu ditangan Allah. Asalkan kita sudah menyiramkan air ke seluruh tubuh maka itu sudah dianggap cukup dan sah. Kalau seandainya faktanya ada bagian tubuh yang tidak terkena, dan itu hanya Allah yang tahu, maka itu dimaafkan. Namun, pikiran "bagaimana kalau ada yang tidak merata" itu hendaknya dibuang jauh-jauh karena itu menjadi pintu masuk dari was-was. Dan was-was itu haram. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan:

واتفق الجمهور على أنه يكفي في غسل الأعضاء في الوضوء والغسل جريان الماء على الأعضاء ولا يشترط الدلك، وانفرد مالك والمزني باشتراطه. اهـ.

Artinya: Jumhur (mayoritas) ulama (madzhab empat) sepakat bahwa cukup dalam membasuh anggota tubuh saat wudhu dan mandi mengalirkan air pada anggota tubuh dan tidak disyaratkan menggosoknya. Hanya Imam Malik (madzhab Maliki) dan Al-Muzani yang mensyaratkannya.

Al-Malibari dalam Fathul Muin, hlm. 12, menegaskan:

ولا يجب تيقن عموم الماء جميع العضو، بل يكفي غلبة الظن به. اهـ.

Artinya: Tidak wajib keyakinan meratanya air ke seluruh tubuh. Bahkan cukup asumsi kuat atas meratanya air tsb.

Al-Dimyati dalam Ianah Thalibin, hlm. 1/74, menguraikan maksud Al Malibari di atas:

وفي حاشية إعانة الطالبين: قوله: ولا يجب تيقن إلخ ـ أي في الوضوء وفي الغسل، وقوله: عموم الماء ـ أي استيعابه جميع العضو، قوله: بل يكفي غلبة الظن به ـ أي بعموم الماء جميع العضو. اهـ.

Artinya: Ucapan "Tidak wajib yakin, dst" Yakni dalam soal wudhu dan mandi. Ucapan "Meratanya air" yakni merata ke seluruh tubuh. Ucapan "Cukup dugaan kuat" yakni dugaan kuat meratanya air ke seluruh tubuh.

Kesimpulan:

Yang wajib dilakukan saat mandi (dan wudhu) adalah mengalirkan air pada anggota tubuh. Tidak wajib menggosok dan tidak wajib memastikan air sudah merata 100%. Asal air sudah dialirkan ke seluruh tubuh maka itu sudah cukup dan mandi sudah sah.

Baca detail: Pembatal Mandi Wajib / Penyebab Mandi Besar

SAAT MANDI WAJIB, KAPAN AIR SUCI JADI MUSTAKMAL ?

Assalamualaikum

Pak ustadz saya mau tanya.

1. Ketika mandi wajib jika pakai gayung apakah hanya air yang ditumphakan dari gayung saja yang mensucikan badan ? Atau apakah air yang tersisa dari tumpahan yang ada dibadan jika digosok dengan tangan akan mensucikan bagian yang lainnya ?

2. Apakah harus menggosok badan saat mandi wajib ?

3. Cara menyiramkan air pada bagian dubur bagaimana pak ustadz jika menggunakan gayung ? Takutnya kalau seperti cara "cebok" air tidak mengenai selurih bagian dubur.

4. Bagaimana cara mengatasi perasaan "air belum merata", kalau merasa sudah merata pasti akan timbul perasaan dibagian tertentu belum merata air ?

5.apakah warna itu menghalangi air sampai kekulit pak ustadz ? Bagaimana dengan warna tanah ?

JAWABAN

1. Selagi air yang ditumpahkan ke badan itu masih menempel di badan dan belum berpisah dari tubuh itu disebut air suci dan menyucikan dan bisa menyucikan bagian lainnya. Air tersebut baru disebut musta'mal apabila sudah terpisah dari tubuh.

Al-Qarafi dalam Al-Furuq lil Firaq, hlm. 2/117, mendefinisikan air musta'mal sbb:

المقصود بالماء المستعمل الذي أديت به طهارة وانفصل من الأعضاء

Artinya: Yang dimaksud dengan air musta'mal adalah air yang sudah dipakai untuk menyucikan tubuh dan terpisah dari anggota tubuh.

Apabila air itu sudah terpisah dari tubuh lalu anda buat membasuh bagian tubuh yang lain, maka hal itu tidak menyucikan namun juga tidak membuat najis. Baca detail: Hukum Air Suci Terkena Bekas Wudhu

2. Tidak wajib menggosok badan saat mandi wajib. Yang prinsip adalah air mengalir ke tubuh. Namun bagi yang memiliki bulu lebat atau jenggot lebat sunnah menyelah-nyelahi supaya memastikan air sampai ke permukaan kulit. Baca detail: Sunnahnya Wudhu dan Mandi

3. Air disiramkan pada bagian tubur dengan tangan kanan sementara tangan kiri mengusap dubur untuk menghilangkan kotoran yang mungkin masih melekat. Lakukan hal ini sampai kotoran dirasa hilang.

4. Kalau cara no. 3 di atas sudah dilakukan, maka anda harus yakin bahwa air sudah merata dan bagian tersebut sudah suci. Lebih dari itu sudah masuk pada kategori was-was yang dilarang. Maka, abaikan. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Mandi Wajib

5. Warna di tubuh? Kalau ada warna di tubuh, maka selagi warna itu berasal dari bahan yang tidak tebal maka tidak menghalangi sampainya air ke tubuh. Contohnya seperti warna pacar atau warna spidol.
Baca detail:
- Tahi Mata saat Wudhu dan Mandi
- Kotoran Kuku dan Koreng jadi Penghalang Mandi dan Wudhu?

***

1. Pertanyaan jawaban no.1

Berarti air yang masih menempel pada tubuh masih bisa dipakai meratakan air pada bagian yang belum terbasahi dengan menggosokkannya pada bagian badan tertentu pak ustadz ? Tetapi kalau setelah menggosokkan air itu lalu telapak tangan diangkat apakah airnya masih suci atau jadi mustamal ?

2. Mana yang lebih baik untuk menghilangkan was-was, apakah meyakini atau memastikan air sudah merata keseluruh badan ? Tiap saya sudah mandi pasti muncul perasaan ada bagian yang belum kena air, apa lagi bagian tubuh yang tidak nampak mata seperti bagian belakang tubuh, telinga dan lipatan tubuh.

JAWABAN

1. Betul. Dan kalau telapak tangan diangkat, maka air yang menempel di tangan tetap suci. Yang jatuh dari telapak tangan itu yang musta'mal. Perlu diketahui, bahwa air mustamal adalah air suci juga. Hanya saja tidak bisa dibuat untuk menyucikan hadas atau najis. Baca detail: 4 Macam Air

2. Cukup meyakini atau asumsi kuat bahwa air sudah merata. Itu sudah cukup. Karena memang faktanya tidak bisa memastikan 100%. Dan asumsi kuat itu sudah cukup dan sah menurut syariah.
Baca detail:
- Mandi Wajib Tidak Merata, Harus diulang atau tidak?
- Ragu Saat Mandi Ada yang Tak Terbasuh

Friday, December 27, 2019

Hukum Qunut Subuh, Witir dan Qunut Nazilah

Hukum Qunut Subuh, Witir dan Qunut Nazilah
Hukum Qunut Subuh, Witir dan Qunut Nazilah



Qunut adalah bacaan doa yang dilakukan pada rakaat akhir setelah bangun dari rukuk. Qunut dalam mazhab Syafi'i ada tiga macam yaitu qunut ratib (jamak, rawatib), qunut witir dan qunut nazilah. Qunut rawatib adalah qunut yang dilakukan secara teratur dan terus menerus. Qunut ratib terjadi pada waktu shalat subuh. Yang kedua adalah qunut witir yaitu qunut yang dibaca setiap rakaat akhir shalat witir. Ketiga, nazilah yaitu qunut yang dilakukan saat umat Islam terimpa musibah atau bencana. Qunut nazilah sunnah di lakukan di setiap shalat fardhu. Hukumnya qunut adalah sunnah


DAFTAR ISI
  1. DOA QUNUT DAN DASAR HUKUMNYA
    1. BACAAN DOA QUNUT
    2. BACAAN DOA QUNUT UMAR BIN KHATTAB
    3. KAPAN QUNUT SUNNAH DIBACA
    4. HUKUM MENAMBAH BACAAN QUNUT DENGAN QUNUT UMAR DAN DOA LAIN
  2. QUNUT WITIR
    1. QUNUT WITIR SUNNAH PADA SEPARUH AKHIR BULAN RAMADAN
    2. QUNUT WITIR SUNNAH SELURUH BULAN RAMADHAN
    3. QUNUT WITIR SUNNAH SEPANJANG TAHUN
    4. KONSEKUENSI APABILA TIDAK QUNUT WITIR
  3. QUNUT NAZILAH
    1. DALIL SUNNAHNYA QUNUT NAZILAH
    2. QUNUT NAZILAH SUNNAH DI SETIAP SHALAT FARDHU 5 WAKTU
    3. QUNUT NAZILAH PADA HARI JUMAT
    4. QUNUT NAZILAH HARI JUMAT MENURUT MAZHAB EMPAT
  4. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM
DOA QUNUT DAN DASAR HUKUMNYA

Hukum doa qunut pada shalat subuh hukumnya sunnah. Pandangan ini dianut oleh madzhab Syafi'i berdasarkan Hadits sebagai berikut:

1. Berdasarkan pada sejumlah hadits sbb:

- Hadith sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,Daruqutni dan Baihaqi dari Sahabat Anas bin Malik sebagai berikut:

ما زال رسول الله يقنت في صلاة الفجر حتى فارق الحياة
Artinya: RasuluLlah selalu berqunut pada shalat subuh ssampai beliau wafat. Untuk status hadits lihat di sini.

- Hadits sahih riwayat Muslim dari Anas.
أن رسول الله قنت شهراً يدعو على أحياء من أحياء العرب ثم ترك
Artinya: bahwa Rasulullah berqunut selama sebulan mendoakan orang-orang Arab yang masih hidup kemudian tidak melakjukannya lagi.

- Hadits sunnahnya Qunut nazilah apabila tertimpa musibah atau bencana:
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقنت في الفجر والظهر والعصر والمغرب والعشاء


Artinya: Bahwasanya Nabi Muhammad melakukan qunut (nazilah) pada saat shalat subuh, dhuhur (dzuhur), ashar, maghrib, dan isya' (HR Ahmad) Diriwayatkan juga bahwa Umar bin Khattab membaca doa qunut pada shalat Subuh di hadapan para sahabat dan lainnya.

Berkenaan dengan Hadith yang diriwayatkan oleh Anas ini, menurut al Haithami, para perawinya adalah tsiqah (dapat dipercaya). Menurut Imam Nawawi ia diriwayatkan oleh sekumpulan huffadz (ahli hadith) dan mengakui kesahihannya.

Kesahihan ini dinyatakan juga oleh al Hafiz al Balkhi, Al Hakim, Al Baihaqi dan ia juga diriwayatkan oleh Ad Daruqutni melalui beberapa jalan dengan sanad yang sahih.

Dalam mazhab Syafi'i adalah sunnah hukumnya membaca doa qunut waku melaksanakan shalat subuh, baik saat turunnya bala' atau tidak.

Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Talib, Ibnu Abbas, Barra’ bin Azib. Lihat: Kitab Al Majmu’ Syarah Muhadzab III halaman 504.

Syekh Nawawi Banten dalam kitab Kasyifatussaja mendefinisikan qunut sbb:

والقنوت هو ذكر مخصوص مشتمل على دعاء وثناء ويحصل بكل لفظ اشتمل عليهما بأي صيغة شاء كقوله: اللهم اغفر لي يا غفور، فالدعاء يحصل باغفر والثناء بغفور، وكذلك ارحمني يا رحيم وقوله: الطف بي يا لطيف وهكذا،


Artinya: Qunut adalah dzikir tertentu yang mengandung doa dan pujian (pada Allah). (Oleh karena itu) setiap kalimat yang mengadung kedua unsur itu dapat digunakan. Seperti kalimat: Allahumma ighfir li Ya Ghafur. Kata "ighfir" adalah doa. Sedangkan kata "ghafur" adalah pujian. Begitu juga kalimat "Irhamni Ya Rahim" dan "Ultuf bi Ya Latif" dan seterusnya.

- Karena qunut adalah suatu dzikir yang khusus maka boleh diganti dengan doa lain asal diniati untuk qunut:
ومثل الذكر المخصوص آية تتضمن ذلك كآخر سورة البقرة بشرط أن يقصد بها القنوت، وكقوله تعالى: ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلاًّ للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم} ((59)الحشر:10)


Artinya: Sama dengan dzikir khusus adalah ayat yang mengandung dzikir seperti akhir surat Al Baqarah dengan syarat harus diniati qunut. Seperti firman Allah dalam QS Al-Hasyr 59:10

- Qunut Umar menurut Syekh Nawawi Banten (ibid) adalah sbb:
اللهم إنا نستعينك ونستغفرك ونستهديك ونؤمن بك ونتوكل عليك ونثني عليك، الخير كله نشكرك ولا نكفرك ونخلع ونترك من يفجرك بضم الجيم أي يعصيك، اللهم إياك نعبد ولك نصلي ونسجد وإليك نسعى ونحفد بكسر الفاء أي نسرع إلى الطاعة نرجو رحمتك ونخشى عذابك إن عذابك الجد بكسر الجيم أي الحق بالكفار ملحق بكسر الحاء أي لاحق بهم ويجوز فتحها لأن الله ألحقه بهم فإن جمع بينهما فالأفضل تقديم قنوت النبي صلى الله عليه وسلّم وإن اقتصر فليقتصر عليه.
Lebih detail lihat di sini.

BACAAN DOA QUNUT (TEKS ARAB DAN LATIN)

اللّهم اهدِنا فيمَن هَديْت و عافِنا فيمَن عافيْت و تَوَلَّنا فيمَن تَوَلَّيْت و بارِك لَنا فيما أَعْطَيْت و قِنا واصْرِف عَنَّا شَرَّ ما قَضَيت فإنك تَقضي ولا يُقضى عَليك فإنَّهُ لا يَذِّلُّ مَن والَيت وَلا يَعِزُّ من عادَيت تَبارَكْتَ رَبَّنا وَتَعا ليتْ َفلكَ الحَمدُ عَلى ما قَضَيْت نَستَغفِرُكَ ونَتوبُ اليك وصلي الله علي سيدنا محمد النبي الأمي وعلي أله وصحبه وسلم


Teks doa qunut tulisan latin:

Allahummahdina fiman hadayt. Wa afina fiman afayt. watawallana fiman tawallayt. wabarik lana fima a'tayt. waqina wasrif anna syarro ma qadayt. fa innaka taqdi wala yuqdo alayk. fainnahu la yadzillu man wa layt wala yaizzu man adayt. tabarakta robbana wata'alayt. falakal hamdu ala ma qadayt. nastaghfiruka wanatubu ilaika. wasallallahu ala sayyidina Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi wa ala alihi wasahbihi wasallam.

Artinya: Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. BErilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan. Pimpinlah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan peliharalah aku dari kejahatan yang Engkau pastikan. Karena, sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan tidak ada yang menghukum (menentukan) atas Engkau. Sesungguhnya tidaklah akan hina orang-orang yang telah Engaku beri kekuasaan. Dan tidaklah akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha berkahlah Engkau dan Maha Luhurl`h Engkau. Segala puji bagi-Mu atas yang telah engkau pastikan. Aku mohon ampun dan kembalilah (taubat) kepada Engkau. Semoga Allah memberi rahmat, berkah dan salam atas nabi Muhammad beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.

BACAAN DOA QUNUT UMAR BIN KHATTAB

Umar bin Khattab, khalifah kedua Islam, memiliki bacaan qunut berbeda sebagai berikut:
اللهم اغفر لنا وللمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات وألّف بين قلوبهم وأصلح ذات بينهم وانصرهم على عدوك وعدوهم. اللهم عذب الكفرة الذين يصدون عن سبيلك ويكذبون رسلك ويقاتلون أولياءك، اللهم خالف بين كلمتهم وزلزل أقدامهم وأنزل بهم بأسك الذي لا ترده عن القوم المجرمين. بسم الله الرحمن الرحيم اللهم إنا نستعينك ونستغفرك ونثني عليك ولا نكفرك ونخلع ونترك من يفجرك. بسم الله الرحمن الرحيم اللهم إياك نعبد ولك نصلي ونسجد وإليك نسعى ونحفد ونخشى عذابك ونرجو رحمتك إن عذابك الجد بالكفار ملحق


KAPAN QUNUT SUNNAH DIBACA

Doa qunut sunnah dibaca dalam beberapa situasi sebagai berikut:

1. Pada raka'at kedua (raka'at akhir) shalat subuh dibaca setelah ruku' (i'tidal).

2. Pada raka'at akhir (rakaat ketiga) shalat sunnah witir pada paruh kedua bulan Ramadhan.

3. Pada raka'at terakhir shalat fardhu apabila ada bencana. Disebut qunut nazilah.

HUKUM MENAMBAH BACAAN QUNUT DENGAN QUNUT UMAR DAN DOA LAIN

Membaca doa qunut yang biasa itu sunnah. Dan menambahnya dengan doa qunut Umar juga sunnah menurut Imam Nawawi asal dalam keadaan sendirian atau bersama makmum yang diketahui rela dengan doa yang panjang. Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar lin Nawawi hlm. 88 menyatakan:

قال أصحابنا: يستحب الجمع بين قنوت عمر رضي الله عنه وبين ما سبق، فإن جمع بينهما فالأصح تأخير قنوت عمر، وفي وجه يستحب تقديمه. وإن اقتصر فليقتصر على الأول، وإنما يستحب الجمع بينهما إذا كان منفرداً أو إمامَ محصورين يرضون بالتطويل


Artinya: Ulama madzhab Syafi'i menyatakan bahwa sunnah mengumpulkan antara qunut yang biasa dengan qunut Umar. Kalau dikumpulkan, maka sebaiknya qunut Umar diakhirkan. Ada pendapat sunnah mendahulukannya. Apabila memilih salah satu, maka hendaknya memilih qunut yang biasa. Sunnahnya mengumpulkan keduanya apabila shalat sendiri atau berjemaah dengan makmum yang rela doa panjang.

Imam Nawawi juga berpendapat bahwa doa qunut tidak harus berupa bacaan yang berasal dari Nabi atau dari Umar. Bacaan qunut bisa saja berupa doa apa apa saja, termasuk berupa satu ayat atau dua ayat Quran apabila mengandung doa. Lihat: Membaca Doa Tambahan Saat Qunut.

QUNUT WITIR

Qunut witir adalah qunut yang dibaca setiap rakaat akhir shalat witir. Menurut mazhab Syafi'i, qunut witir disunnahkan pada separuh akhir bulan Ramadhan.

QUNUT WITIR SUNNAH PADA SEPARUH AKHIR BULAN RAMADAN

Sabagaimana disebutkan di muka, qunut witir sunnah dilakukan pada separuh akhir bulan Ramadan. Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/510 menyatakan:

والمذهب أن السنة أن يقنت في الركعة الآخرة من صلاة الوتر في النصف الأخير من شهر رمضان هذا هو المشهور في المذهب , ونص عليه الشافعي رحمه الله ,


Artinya: Sunnah membaca qunut pada rakaat akhir dari shalat witir pada separuh akhir dari bulan Ramadhan. Ini pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi'i berdasarkan nash dari Imam Syafi'i.

QUNUT WITIR SUNNAH SELURUH BULAN RAMADHAN

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/510 menyatakan:
وفي وجه يستحب في جميع شهر رمضان , وهو مذهب مالك


Artinya: Menurut satu pendapat yang lain, sunnah qunut di seluurh bulan Ramadan. Ini adalah pendapat Imam Malik.

QUNUT WITIR SUNNAH SEPANJANG TAHUN

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/510 menyatakan:

ووجه ثالث أنه يستحب في الوتر في جميع السنة . وهو قول أربعة من كبار أصحابنا , أبي عبد الله الزبيري وأبي الوليد النيسابوري وأبي الفضل بن عبدان وأبي منصور بن مهران وهذا الوجه قوي في الدليل لحديث الحسن بن علي رضي الله عنهما السابق في القنوت , ولكن المشهور في المذهب ما سبق , وبه قال جمهور الأصحاب قال الرافعي وظاهر كلام الشافعي رحمه الله كراهة القنوت في غير النصف الآخر من رمضان


Artinya: Pendapat ketiga, sunnah qunut witir sepanjang tahun. Ini pendapat keempat dari pembesar ulama Syafi'iyah seperti Abu Abdillah Al-Zubairi, Abul Walid An-Naisaburi, Abul Fadhal bin Abdan, Abu Manshur bin Mahran. Pendapat ini secara dalil termasuk kuat karena berdasarkan pada hadis Hasan bin Ali. Tetapi yang masyhur dalam mazhab Syafi'i adalah sebagaimana diterangkan di muka (separuh akhir Ramadhan) dan ini penapat jumhur (mayoritas) ulama mazhab Syafi'i. Imam Rofi'i berkata: Dari zhahirnya ucapan Imam Syafi'i, makruh qunut di selain separuh akhir bulan Ramadhan.

KONSEKUENSI APABILA TIDAK QUNUT WITIR


Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 3/510 menyatakan:

قال : ولو ترك القنوت في موضع استحبه سجد للسهو , ولو قنت حيث لا يستحبه سجد للسهو , وحكى الروياني وجها أنه يقنت في جميع السنة بلا كراهة , ولا يسجد للسهو لتركه من غير النصف الآخر من رمضان قال : وهذا حسن وهو اختيار مشايخ طبرستان


Artinya: Imam Rafi'i berkata: Apabila meninggalkan qunut di tempat yang disunnahkan, maka sunnah sujud sahwai. Apabila qunut di waktu yang tidak disunnahkan, maka sunnah juga sujud sahwi. Imam Rouyani mengisahkan satu pendapat lain bahwa sunnahnya qunut witir di sepanjang tahun. Dan tidak perlu sujud sahwi karena meninggalkan qunut pada selain separuh akhir bulan Ramadhan. Rofi'i berkata: ini pendapat yang baik dan pilihan dari para ulama Tabaristan.

QUNUT NAZILAH

Qunut nazilah adalah qunut yang dilakukan pada saat terjadi sesuatu yang besar, seperti musibah epidemik, bencana alam, kekeringan, kelaparan, peperangan baik perang saudara antar sesama muslim atau perang antara muslim-nonmuslim.
DALIL SUNNAHNYA QUNUT NAZILAH

- Hadits riwayat Abu Dawud, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas Nabi bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الْصُّبْحِ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ اْلأَخِرَةِ يَدْعُوْ عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِيْ سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ


Artinya: Rasulullah pernah qunut selama satu bulan secara terus-menerus pada shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di akhir setiap shalat, (yaitu) apabila ia mengucap Sami’Allahu liman hamidah di raka’at yang akhir, beliau mendo’akan kebinasaan atas kabilah Ri’lin, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang ada pada perkampungan Bani Sulaim, dan para makmum mengucapkan amin.

- Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas

عَنْ أنَسٍ قَالَ: قَنَتَ رَسُوْلُ اللَّهِ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوْعِ يَدْعُو عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ


Artinya: Rasulullah pernah qunut selama satu bulan setelah bangkit dari ruku’, yakni mendo’a kebinasaan untuk satu kabilah dari kabilah-kabilah Arab, kemudian beliau meninggalkannya (tidak melakukannya lagi)


QUNUT NAZILAH SUNNAH DI SETIAP SHALAT FARDHU 5 WAKTU

Dari dua hadits di atas maka jelaslah bahwa qunut nazilah boleh dan sunnah dilakukan di setiap shalat fardhu kalau memang pada saat itu dianggap perlu melakukan qunut nazilah karena adanya musibah atau bencana yang menimpa umat Islam. Adapun waktu pelaksanaannya adalah sama dengan qunut rawatib yakni dilaksanakan pada rakaat terakhir setelah bangun dari rukuk.


QUNUT NAZILAH PADA HARI JUMAT

Berdasarkan pada hadits di atas, maka menurut para ulama mazhab Syafi'i qunut nazilah juga sunnah dilaksanakan pada shalat Jum'at. Karena, kalau Nabi pernah melakukan qunut nazilah setiap shalat fardhu sebulan penuh maka itu artinya shalat Jum'at termasuk di dalamnya. Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm, bab "Qunut Al-Jumah", hlm. 1/236 menyatakan :

حكى عدد صلاة النبي صلى الله عليه وسلم الجمعة فما علمت أحدا منهم حكى أنه قنت فيها إلا أن تكون دخلت في جملة قنوته في الصلوات كلهن حين قنت على قتلة أهل بئر معونة، ولا قنوت في شيء من الصلوات إلا الصبح إلا أن تنزل نازلة فيقنت في الصلوات كلهن إن شاء الإمام


Artinya: Sejumlah perawi hadits meriwayatkan shalat Jumat-nya Nabi. Tidak ada satupun dari mereka yang meriwayatkan bahwa Nabi melakukan qunut pada shalat Jum'at kecuali apabila Nabi melakukan qunut nazilah pada semua shalat fardhu ketika beliau qunut atas terbunuhnya penduduk Bir Maunah. Dan tidak disunnahkan qunut (rawatib) pada shalat fardhu selain Subuh kecuali saat turunnya bencana (nazilah) maka boleh melakukan qunut pada seluruh shalat wajib apabila imam berkehendak.

Imam Romli dalam Nihayatul Muhtaj, hlm. 1/508 menyatakan:

( ويشرع ) أي يستحب ( القنوت ) مع ما مر أيضا ( في سائر المكتوبات ) أي باقيها من الخمس في اعتدال الركعة الأخيرة ( للنازلة ) إذا نزلت بأن نزلت بالمسلمين ولو واحدا على ما بحثه جمع ، لكن اشترط فيه الإسنوي تعدي نفعه كأسر العالم والشجاع وهو ظاهر


Artinya: Disunnahkan qunut pada lima shalat fardhu yang lain pada saat i'tidal (bangun) dari rakaat akhir untuk qunut nazilah apabila terjadi musibah / bencaa pada umat Islam, walaupun satu orang, berdasarkan pendapat segolongan ulama. Namun Imam Asnawi mensyaratkan manfaatnya melebihi satu orang seperti ditahannya orang alim atau pemberani.

QUNUT NAZILAH HARI JUMAT MENURUT MAZHAB EMPAT

Walaupun ulama mazhab empat sepakat bahwa qunut nazilah hukumnya sunnah apabila dalam keadaan bencana atau musibah, namun mereka berbeda pendapat tentang apakah qunut nazilah sunnah dilakukan pada seluruh shalat fardhu dan hari Jum'at dengan rincian sbb:

1. Madzhab Syafi'i menganggap qunut nazilah adalah sunnah dilakukan di seluruh shalat fardhu termasuk shalat Jum'at sebagaimana pernyataan Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm 1/236 di atas.

2. Mazhab Maliki berpendapat bahwa qunut nazilah hanya sunnah dilakukan pada shalat Subuh saja.

3. Mazhab Hanbali berpendapat bahwa qunut nazilah sunnah dilakukan di seluruh shalat fardhu kecuali shalat Jum'at.

4. Mazhab Hanafi menyatakan bahwa qunut nazilah hanya sunnah dilakukan pada saat shalat subuh saja, tidak pada shalat yang lain.

CATATAN:

Kalau anda pendapat dari ustadz Indonesia yang menyatakan bahwa qunut nazilah hari Jum'at adalah bid'ah atau tidak sunnah, maka bisa dipastikan dia mengikuti pendapat mazhab Hanbali. Mazhab yang biasa diikuti oleh kalangan Salafi Wahabi.

Begitu juga pendapat yang menyatakan bahwa qunut subuh terus menerus (ratib) tidak dibolehkan adalah pendapat mazhab Hanbali yang juga diikuti oleh pengikut Wahabi Salafi.